Akal manusia tidak akan pernah mampu menebak kapan, bagaimana, dan dengan cara apa setiap doa-doa yang di langitkan akan terkabul sebagai nyata. “Kia, 2021.”
Sudah tidak bisa dikalkulasikan lagi berapa kali dunia ini membuatku tersesat dalam bingkai ekspektasi terhadap makhluknya, terhadap jumawanya aku atas rencana yang kubuat dan terhadap seluruh ego yang banyak maunya dan keras kepala.
Namun, aku teramat bersyukur Allah selalu menyelamatkanku berkali-kali atas hancurnya harapanku yang tidak jadi nyata, atas gagalnya rencanaku yang sudah tersusun sedemikian rupa dan atas egoisnya aku dalam menentukan beberapa pilihan hidup.
Dulu aku selalu penuh tanya, mengapa aku selalu menelan rasa kecewa yang sama berkali-kali. Seiring bertambahnya usia akhirnya aku paham, seluruh kekecewaan yang berkali-kali kutelan itu—menguatkanku. Seluruh kegagalan atas rencana-rencana yang kurajut terjadi sebab Allah lebih tahu yang terbaik untukku, sedang aku tidak tahu apa-apa aku hanya sok tahu saja.
Seiring berjalannya poros waktu menuju fase hidup bernama “mendewasa”, aku mulai mengerti bahwa beberapa kekhawatiran obatnya hanyalah berserah. Serendah-rendahnya. Terserah Allah maunya bagaimana, setelah diri sudah berikhtiar sepenuhnya sebagai hamba. Lalu pada titik nadir itu, seluruh bingkai ekspektasi dan ego meluruh kemudian setiap doa-doa yang melangit akan terjawab dengan indah:
“Mempertemukan yang semestinya bertemu dalam jalinan takdir yang meneduhkan, mendekatkan yang setujuan dalam perjalanan mengarungi bumi cinta-Nya, menjauhkan yang memang semestinya berjarak agar saling selamat, menghimpun yang berserak agar menjadi utuh dalam ukhuwah, menyelesaikan yang belum selesai agar tidak ada salah paham, menjawab pertanyaan hati agar hilang keraguan, mengetuk pintu kesadaran jiwa agar menjadi lebih dekat pada-Nya, memberi jalan keluar pada setiap ketersesatan dan menerangi gulitanya keputusasaan agar sadar bahwa sebagai manusia kita akan dan selalu kembali pada-Nya.”
Beruntunglah orang-orang yang senantiasa diberi kesadaran bahwasanya; pertolongan Allah selalu dekat dan Allah senantiasa memaafkan setiap hamba-Nya yang meminta pengampunan dengan penuh kepasrahan. Sungguh, tiada kata terlambat menjadi baik, selama usia dikandung badan.
Selamat Idul Fitri, mohon di maafkan secara lapang lahir dan batin🙏
dan semoga Ramadhan ini menjadi titik perbaikan hubungan antara kita dengan al qur'an, antara kita dengan sholat sholat yang terlalaikan , antara kita dengan ibadah yang dipandang remahan dan sering terlupakan, antara kita dengan sunnah sunnah yang kerap kali diremehkan, serta menjadi titik pertaubatan atas renganggangnya hubungan kita dengan Allah Sang Pencipta kehidupan 🍂
Sebab tak sengaja ciptakan cela, maka kita belajar mendewasa.
Kata orang bijak, dewasa adalah mampu menahan air mata saat terluka, maka artinya sesekali aku telah menjadi dewasa.
Kata orang bijak, dewasa adalah perihal mampunya meredam ego, berani mengambil risiko atas pilihan-pilihan hidup, berhasil mengendalikan rasa cemas dan mampu tetap kuat saat dihantam badai hidup terdahsyat.
Namun jika itu adalah makna dewasa, maka artinya aku tidak pernah mencapai kurikulum kelulusan perihal bab tersebut. Pengertian dewasa menjadi bias, sebab setiap isi kepala yang menyimpulkan makna dewasa dari setiap kejadian hidup tidaklah sama. Dewasa adalah kerumitan, namun adakah cara menyederhanakannya?
Kau, aku dan banyak keinginan yang tumbuh dalam hati kita. Tumbuh subur dan berbunga, namun kadang tidak semuanya menjadi realita. Lebih banyak yang tertahan dalam angan, yaitu ruangan tak kasat mata dalam jiwa—penghuninya adalah bayangan kita sendiri yang semu dan tanpa warna.
Kita menyiram mimpi dan rencana dengan rinai doa yang tak pernah reda dan harapan yang tidak mengenal jeda. Namun sadar diri, mana ada hidup sempurna, mana mungkin segala ingin tersuguh jadi nyata? Mana mungkin seluruh juang akan selalu berujung merdeka?
Kegagalan demi kegagalan, kehancuran dan putus asa seakan jadi menu cemilan hidup sehari-hari. Namun tidak juga naif, bahwa rasa kecewa dan penerimaan yang sulit pasti ada tatkala keinginan paling dalam tidak menjelma nyata.
Aku, kau dan banyak suara yang tertahan dalam jiwa, tidak tersampaikan kepada tujuannya. Sebab merasa takut dan merasa tidak layak mengutarakan isi kepala. Namun, semesta mencatat setiap rasa dan kata tertahan—yang tak bisa bicara.
Entah kapan yang terpendam akan terutarakan ke permukaan. Entah kapan segala tanya hati kan temukan jawaban. Dari setiap kenyataan yang pahit, kita belajar kuat berdiri. Dari setiap kekecewaan yang datang penuh kejutan, kita belajar bertahan dalam kekalahan.
Tanah lapang di hati kita diminta oleh hidup agar luas tanpa batas; tentang pengertian bahwa hidup tidak selalu memberi yang kita inginkan, tidak selalu menjadikan kita pemenang saat dihadapkan pada masalah.
Hidup adalah perjalanan yang sudah digaris sesuai mampu dan kecukupan, semoga memberi setetes embun sejuk tentang makna sederhana dewasa:
Tentang penerimaan yang tidak berbatas dan tak pernah tuntas kita selesaikan.
Padahal tidak ada hukum yang mengatur bahwa; semakin bertambah usia harus seiring dengan besarnya pencapaian hidup yang tergapai. Namun entah kenapa, kehidupan menuntut manusia mencari kesempurnaan. Ketika tidak menemukannya, maka munculah celah yang membuat diri membandingkan dan terus membandingkan antara kekurangan yang dimiliki dengan pencapaian orang lain yang lebih menakjubkan dalam pandangan mata, hingga lupa mensyukuri nikmat lain dari Tuhan.
Di sisi lain, aku sadar bahwa besarnya jejak langkah setiap orang tidaklah sama. Jauhnya tujuan pun berbeda, waktu yang telah dihabiskan dalam menempuh setiap perjalanan tentu takarannya tak bisa dikalkulasikan dan besarnya usaha yang sudah diberikan tentu tidak bisa diambil menjadi patokan, sebab manusia memang sudah semestinya mengupayakan ikhtiar dan hasilnya urusan Tuhan yang Maha menentukan.
Sepanjang perjalanan berjuang pun, jalannya tidak selalu mulus layaknya jalan tol, selalu ada badai yang menghambat bahkan menunda langkah. Akan ada perasaan bingung menentukan arah, keraguan untuk memulai dan ketakutan menghadapi setiap konsekuensi atas pilihan-pilihan hidup. Belum lagi gemuruh hati yang memiliki banyak bentuk luapan emosi, akan ada rasa kecewa dan amarah yang hadir mengusik hati sebelum sampai pada titik penerimaan yang melapangkan langkah yang hampir menyerah untuk terus melangkah ke depan.
Secara garis besar semua yang kita hadapi sangat penuh perbedaan. Jadi ketika waktu dalam menggapai penghujung impiannya tak sama, seharusnya aku tidak berlebihan dalam menumpahkan kekhawatiran dan kesedihan.
Bukankah manusia tidak bisa memilih ingin takdir yang bagaimana, tapi takdir yang dipilihkan Tuhan untuknya pasti selalu yang terbaik dan sesuai kesanggupan.
Dari setiap penundaan, sungguh selalu ada kebaikan untuk diambil pelajaran. Percayalah bahwa Dia menunda sesuatu untuk memberikan yang lebih baik dan tepat untukmu, jalannya dibuat sukar agar hati lebih di lembutkan dalam bersabar dan kelak ketika sudah sampai tujuan syukurnya seluas angkasa yang tak berbatas.
Melangkah di bumi dengan berdoa, berserah dan rendah hati, untuk mengetuk pintu langit-Nya yang Maha indah dan abadi.
Berkali-kali aku ingin menuliskan tentang seseorang ini, namun berkali-kali pula aku mengurungkannya. Aku pikir apa gunanya menceritakan seseorang yang sudah berlalu. Namun bagaimanapun aku mengabaikannya, tetap saja seseorang dalam cerita ini telah memberikanku pelajaran berharga perihal asa-rasa-kecewa. Kami adalah dua orang asing yang bertemu secara sengaja dan berakhir asing lagi seperti semula—dua bulan yang lalu.
Jika aku menarik garis waktu ke belakang, maka boleh aku beri batasan bahwa saat itu; aku menyukainya. Namun apakah aku sudah memiliki perasaan spesial terhadapnya? tentu tidak semudah itu. Perangkap bernama rasa nyaman, bagiku adalah gencatan senjata di benteng pertahanan rasionalku sebagai perempuan. Namun untuk menaruh perasaan khusus, aku tidak mau sembarangan.
Pengalaman beberapa kali patah cukup membuatku takut hilang arah (lagi), penyesalan dan beberapa kekeliruan pernah membuatku ingin membunuh diriku sendiri. Aku tidak ingin, kembali pada titik salah lagi. Sebisa usaha dan harap penuhku.
Kedatangannya kali itu berbeda. Dia hadir saat aku berusia 24 tahun bukan lagi berusia belasan tahun. Dia hadir setelah aku pernah hancur lebur karena ekspektasi. Dia hadir setelah aku merasa bahwa aku tidak memiliki keberanian untuk mempercayai lagi. Dia hadir ketika aku tidak ingin lagi terjatuh dalam ruang ketidakjelasan untuk kesekian kali. Dia hadir saat aku di titik lelah.
Kehadirannya yang singkat dengan pelajaran yang teramat pekat. Bagaimanapun, tak ada istilahnya bahwa hal baik mampu dicampur adukkan dengan ketidakbaikan. Tak ada batas abu-abu perihal hubungan laki-laki dan perempuan. Jadi jika terasa abu-abu dan janggal antara ucapan dan sikap seseorang, bagiku adalah hal wajar jika aku menuntut penjelasan, namun bukan berarti aku mendesak agar disegerakan. Tentu itu adalah dua poin yang berbeda. Sebab saat itu aku penuh sadar bahwa ada banyak amanah yang belum selesai yang harus aku pertanggung jawabkan. Saat itu aku hanya ingin tahu kenapa tidak selaras antara ucapan dan sikapnya?
Dia datang membawa sikap kedewasaan yang membuatku takjub di awal perkenalan. Melakukan hal-hal baik terhadap duniaku yang sudah lama merasa aneh dengan kehangatan. Mencoba memperbaiki ketakutan dan prasangka buruk yang terus menerus bertunas. Aku begitu antusias, namun rasa ragu pun tumbuh bagai semak belukar yang tidak bisa aku tebas. Ada yang terasa kekanakan, bagaimana pun aku mencoba memakluminya.
Aku tahu, bahwa hati manusia dalam genggaman Tuhan. Maka semestinya, jika yang aku jalani adalah jalan menuju kebaikan mengapa hatiku penuh akan keresahan? Maka atas nama harga diriku sebagai perempuan, aku meminta penjelasan. Sebab perasaan teramat abstrak bukan? Namun apa yang dikeluarkan oleh bibir seringkali mampu mempertegas batas untuk tahu diri dan menyelamatkan diri sendiri.
Pelajaran yang dapat kupetik adalah, perempuan harus berani mempertegas batas demi menyelamatkan hatinya sendiri. Sebelum menghadapi luka yang lebih perih dan kenyataan yang lebih pahit, bahwa ternyata kamu hanya dijadikan rumah ke rumah seperti lagu Hindia. Jangan buang waktumu untuk hubungan yang tidak jelas, terserah jika dia menyimpulkan bahwa kamu perempuan yang terlalu menuntut. Sebab waktu terus berjalan dan tersesat dalam ketidakjelasan bukanlah lelucon yang menyenangkan, menurutku.
Pada guratan rahasia takdir yang begitu gaib, ada bulir-bulir tanya yang mengalir sebening embun dini hari yang muncul tatkala dingin memeluk malam yang sepi. Terlalu cepat, sebelum subuh bahkan sejengkal lebih dekat.
Malam seolah memberikan fatwa melalui rasi bintang yang berpijar, lembut bulan yang bersinar dan gumpalan awan yang memudar, ada desir rindu yang menyamar dengan lihai dalam lugunya rasa yang dikira telah pudar.
Ada doa-doa yang tidak menyerah, meski waktu kian membuat jiwa semakin lelah. Tak ada perjanjian kapan dan di mana kita bertemu. Tak ada juga isyarat dari semesta bahwa mungkin kau juga sedang mencari dan menunggu. Lintasan hidupmu, tak terjangkau oleh keterbatasan fikirku. Kita tersekat oleh banyak waktu dan beberapa simpang yang masih membelenggu. Kita terpisah dalam arah yang tidak terjamah oleh sikap tabah.
Sebening embun yang terlalu dini, sesejuk malam yang masih tinggi, beserta sebuah yakin yang terukir dalam hati; kita pasti tidak akan bertemu. Perihal kapan dan di mana, biarlah menjadi rahasia yang paling berkah sisi-Nya.
Malam minggu yang macet, 24 Oktober 2020 20.26 WITA